Proses ini merupakan
penyulingan minyak bunga alamiah paling kuno, dimana digunakan lemak hewan
sebagai penjerab minyak. Lemak memiliki daya absorpsi yang tinggi sehingga jika
dicampur dengan bunga melati, lemak akan mengabsorpsi minyak yang dihasilkan oleh
bunga melati. Selain itu pemprosesan minyak atsiri dengan lemak akan
menghasilkan rendemen yang lebih banyak daripada dengan proses ekstraksi
menguap.
Proses enfleurasi sampai
saat ini masih digunakan dalam industri minyak atsiri di daerah Perancis dan India.
Minyak atsiri yang dihasilkan dari proses enfleurasi sangat mendekati minyak
bunga alamiah dan paling baik dibandingkan proses ekstraksi pelarut menguap.
Walaupun telah ditemukan proses ekstraksi yang lain, namun proses enfleurasi
masih memegang peranan penting dan berjalan terus hingga saat ini dan terus
disempurnakan prosesnya.
Alat Enfleurasi
Peralatan yang digunakan adalah chasis yang terbuat dari kaca, chasis
kaca disusun bertingkat. Diusahakan terbebas dari sinar matahari dan udara
bebas. Karena jika terganggu dua hal diatas dapat menyebabkan kerusakan lemak
dan terganggunya proses yang pada akhirnya gagal produksi.
Preparasi Lemak
Keberhasilan dari proses
enfleruasi terletak pada proses persiapan lemak sebagai alat absorpsi. Lemak
yang digunakan untuk proses enfleurasi harus memenuhi syarat – syarat berikut :
·Lemak yang digunakan harus benar – benar
bersih dari kontaminan.
·Tidak berbau dan bebas air.
·Tidak terlalu lunak dan tidak terlalu keras.
Ada beberapa jenis lemak yang digunakan untuk proses enfleurasi
ini, yakni, lemak sapi, lemak domba, lemak babi, dan lemak hewani lainnya.
Selain menggunakan lemak, enfleurasi juga bisa dicampur dengan beberapa minyak
nabati seperti minyak kedelai, minyak canola, dan minyak kacang – kacangan.
Bahkan penelitian9 terakhir dapat menggunakan mentega putih sebagai penjerap
pengganti lemak hewan.
Pada beberapa literatur ada yang menyebutkan campuran lemak
sapi dan lemak babi dengan perbandingan 1 : 2 sangat baik untuk proses
enfleurasi. Namun di Indonesia kita terkendala dengan status halal dan haram
dimana sebagian besar warga negara Indonesia adalah muslim. Untuk itu perlu
dikembangkan suatu campuran baru untuk menggantikan10 lemak babi dalam proses
enfleurasi.
Lemak yang diperoleh dari pasar kita bersihkan dari kotoran,
seperti darah, kulit dan rambut yang masih tertinggal. Tangaskan diatas air
yang dipanaskan sembari diberi air jeruk untuk mempertahankan kerapatan lemak,
selain air jeruk, menurut literatur juga dapat menggunakan air mawar dan air
kemenyan. Namun pemberian air jeruk akan berpengaruh terhadap bau produk akhir.
Setelah dipisahkan dari kotoran dan ditangaskan maka lemak didinginkan dan siap
untuk dipakai.
Lemak yang siap dipakai tadi dibentuk seperti bubur, setelah
itu kemudian ditaruh diatas plat kaca, dengan susunan dalam plat kaca tersebut
dibuat bolak – balik depan belakang.
Susunan lemak pada plat kaca sengaja disusun demikian dengan fungsi saat
disusun nantinya, lemak bagian atas kaca untuk menaruh bunga yang akan diserap
minyaknya, bagian bawahnya berguna untuk menyerap minyak bunga yang menguap
dari chasis dibawahnya. Setelah disusun seperti diatas, maka bunga siap ditaburkan.
A.Ekstraksi
dengan pelarut menguap ( solvent
extraction )
·Teknik Ekstraksi Pelarut Menguap
Teknik ini memanfaatkan
pelarut menguap untuk memisahkan minyak dari jaringan tumbuhan. Digunakannya
dikarenakan sifat dari pelarut menguap yang bertitik didih rendah sehingga
mudah dipisahkan pada saat pemurnian.
·Pemilihan Pelarut
Ada beberapa syarat ideal
untuk menjadikan suatu pelarut organik menjadi pelarut .syarat ideal dari suatu
pelarut menurut versi Ernest Guenther :
1)Pelarut harus dapat melarutkan semua zat wangi
bunga dengan cepat dan sempurna, dan sedikit mungkin melarutkan bahan seperti
lilin, pigmen, senyawa albumin, dengan kata lain pelarut bersifat selektif.
2)Harus memiliki titik didih cukup rendah, agar
dapat di uapkan pada saat suhu rendah, namun juga jangan terlalu rendah, karena
ditakutkan pada suhu ruanganakan kehilangan sebagian besar pelarut.
3)Pelarut tidak boleh larut dalam air.
4)Pelarut harus bersifat inert, sehingga tidak
bereaksi dengan komponen minyak bunga.
5)Harga serendah mungkin dan tidak mudah
terbakar.
Namun tidak ada pelarut
mutlak yang sesuai dengan syarat diatas, sehingga kita dapat saja memilih
pelarut yang lebih mendekati beberapa sifat diatas, selain untuk tujuan
ekonomis kita juga harus memikirkan efisiensi pelarut1.
Beberapa pelarut yang
sudah digunakan sebagai pelarut pada proses ekstraksi pelarut menguap antara
lain Petroleum eter2 dengan nama dagang wash benzen, normal Hexan (n-Hexana),
Benzena, alkohol dan masih banyak lagi pelarut organic yang dapat digunakan.
·Peralatan Ekstraksi Pelarut Menguap
Beberapa alat yang
digunakan pada proses ekstraksi pelarut menguap antara lain :
1)Ekstraktor.
2)Evaporator Concrete dan absolute.
3)Ice Box.
4)Separator Kaca.
5)Saringan.
6)Penampung.
7)Lemari Pendingin.
Ekstraktor
Kegunaan ekstraktor
adalah wadah untuk melarutkan minyak atsiri pada bunga melati dengan pelarut
menguap. Biasanya terbuat dari stainless steel ataupun kaca. Ekstraktor
memiliki dua tipe yakni tipe berdiri biasanya disebut dengan stationary
extractor dan yang kedua adalah ekstraktor tipe tidur atau biasa disebut rotary
extractor.
Evaporator
Evaporator digunakan
dalam pemekatan minyak atsiri menjadi concrete dan absolutes. Sistemnya dengan
memanfaatkan perbedaan titik didih antara pelarut dan minyak atsiri bunga
melati. Untuk mendukung kinerja evaporator perlu disertakan pompa vakum agar
tekanan dalam tabung evaporator dapat ditekan serendah mungkin yang nantinya
akan berhubungan dengan suhu yang digunakan dapat lebih rendah.Suhu dan tekanan
menjadi kunci dalam proses evaporasi, semakin rendah suhu maka semakin baik
minyak yang didapatkan. Karena Minyak bunga alamiah mudah rusak terhadap suhu
tinggi.Evaporator terdiri dari labu tempat hasil ekstraksi ataupun concrete,
lalu penangas air, kondensor, penampung hasil dan pompa vakum. Semakin teliti
evaporator (dalam segi suhu dan tekanan) maka semakin bagus kualitas minyak
yang dihasilkan, namun tidak terlepas dari sumber daya manusia yang
menanganinya.
·Proses Ekstraksi Pelarut Menguap
Proses Ekstraksi dimulai
dari persiapan bahan, dimana kita harus ekstra teliti untuk memilih bahan baku,
jika salah memilih bahan baku maka kita dipastikan gagal mendapatkan minyak
dengan kualitas yang baik.
Kita dapat melihat proses ekstraksi pelarut meguap pada
bunga melati yang di gunakan sebagai bahan baku pembuatan minyak atsiri .
Setelah bunga melati
dipanen dari kebun, maka proses selanjutnya adalah membawanya ke workshop6.
Untuk 100 Kg bunga melati dibutuhkan 3 orang pekerja dengan waktu maksimal
pengerjaan 2 jam saja. Jika lebih dari 2 jam pengerjaan belum selesai pemisahan
kuntum bunga,maka sisa bunga tidak di ikutkan dalam proses.
Kuntum bunga yang telah dipisahkan dimasukkan kedalam
ekstraktor, kemudian ditambahkan pelarut dengan perbandingan 1 : 1,5 (untuk
posisi tidur) dan 1 : 4 (untuk posisi berdiri).
Proses ekstraksi memakan
waktu kurang lebih 2 – 5 jam, tergantung dari kecepatan rotasi ekstraktor dan
kondisi bunga dalam ekstraktor, jika sudah mulai coklat lebih baik proses
ekstraksi dihentikan. Setelah proses ekstraksi selesai maka pelarut disaring
dari ampas bunga, selain itu juga sisa pelarut yang masih menempel dibunga kita
pres sehingga kita kehilangan pelarut lebih minimal.
Larutan hasil ekstraksi
dimasukkan kedalam evaporator untuk dijadikan concrete, dengan waktu penguapan
selama 2 jam, suhu 30 – 40oC, tekanan 200 mmHg7.
Hasil dari concrete berupa lapisan lilin bunga, minyak
atsiri, pigmen bunga dan beberapa komponen bunga yang larut saat proses
ekstraksi. Bentuk hasil evaporasi yang pertama ini berbentuk seperti lilin padat,
namun jika proses evaporasi kurang sempurna maka lilin agak lembek.Proses
selanjutnya adalah menjadikan concrete menjadi absolute. Prosesnya adalah
melumat concrete dengan lumpang keramik, setelah itu dicampur dengan Et-OH p.a.
100%. Diaduk hingga menjadi seperti bubur, komposisi antara concrete dengan
pelarut adalah 1 : 8 sampai dengan 1 : 10, larutan diaduk terus, setelah itu
diendapkan dan dimasukkan kedalam freezer, fungsinya adalah untuk mengendapkan
lilin.
Setelah itu pisahkan larutan yang jernih diatas dari lilin
yang mengendap dibawah, setelah itu hasil larutan yang jernih tadi dipekatkan
dengan evaporator kembali dengan tujuan memisahkan alkohol dari minyak dengan
suhu 40oC, P : 200 mmHg. Hasil yang didapatkan berupa absolute jasmine, pekat,
agak kental dan memiliki bau harum. Hasil absolute ini meliki nilai jual yang
tinggi dipasaran dibandingan minyak atsiri dengan proses distilasi.
B.Ekstraksi dengan alat soxhlet
Metode Ekstraksi dengan
alat soxhlet ini dipilih karena pelarut yang digunakan lebih sedikit (efesiensi
bahan) dan larutan sari yang dialirkan melalui sifon tetap tinggal dalam labu,
sehingga pelarut yang digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru dan
meningkatkan laju ekstraksi. Waktu yang digunakan pun lebih cepat.
Kerugian metode ini
ialah pelarut yang digunakan harus mudah menguap dan hanya digunakan untuk
ekstraksi senyawa yang tahan panas (Harper 1979).
v Prinsip Ekstraksi dengan alat
soxhlet
Prinsip kerja ekstraksi dengan alat soxhlet ialah ekstraksi dengan menggunakan
pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan
jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik.
Penetapan kadar lemak dengan metode soxhlet ini
dilakukan dengan cara mengeluarkan lemak dari bahan dengan pelarut anhydrous.
Pelarut anhydrous merupakan pelarut yang benar-benar bebas air. Hal tersebut
bertujuan supaya bahan-bahan yang larut air tidak terekstrak dan terhitung
sebagai lemak serta keaktifan pelarut tersebut tidak berkurang. Pelarut yang
biasa digunakan adalah pelarut hexana (Darmasih 1997).
Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang dan kemudian
dibungkus dengan kertas saring atau ditempatkan dalam thimble (selongsong
tempat sampel), di atas sample ditutup dengan kapas. Kertas saring ini
berfungsi untuk menjaga tidak tercampurnya bahan dengan pelarut lemak secara
langsung. Pelarut dan bahan tidak dibiarkan tercampur secara langsung agar
bahan-bahan lain seperti fosfolipid, sterol,asam lemak bebas,pigmen karotenoid,
klorofil dan lain-lain tidak ikut terekstrak sebagai lemak. Hal ini dilakukan
agar hasil akhir dari penentuan kadar lemak ini lebih akurat. Selanjutnya labu
kosong diisi butir batu didih.
Fungsi batu didih ialah untuk meratakan panas. Setelah
dikeringkan dan didinginkan, labu diisi dengan pelarut anhydrous (Lucas
1949).Thimble yang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam soxhlet. Alat
ekstraksi soxhlet disambungkan dengan labu lemak yang telah diisi pelarut lemak
dan ditempatkan pada alat pemanas listrik serta kondensor.
Alat pendingin disambungkan dengan soxhlet. Air untuk
pendingin dijalankan dan alat ekstraksi lemak mulai dipanaskan. Penentuan kadar
lemak pada bahan tersebut dilakukan selama beberapa jam tergantung dari jumlah
emak yang terkandung dalam bahan. Semakin banyak kadungan lemak yang terdapat
pada bahan, semakin lama proses ekstraksi lemak dilakukan (Darmasih 1997).
Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati soxhlet
menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar
kondenser mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian
menetes ke thimble.
Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini
terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan
lewat sifon menuju labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut
sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 6 jam.
Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak
dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan (Darmasih 1997).
Berikut ini adalah fungsi dari alat-alat/instrument yang menyusun
alat soxhlet
1.Kondensor : berfungsi sebagai pendingin, dan
juga untuk mempercepat proses pengembunan.
2.Timbal : berfungsi sebagai wadah untuk sampel
yang ingin diambil zatnya.
3.Pipa F : berfungsi sebagai jalannya uap, bagi
pelarut yang menguap dari proses penguapan
4.Sifon : berfungsi sebagai perhitungan siklus,
bila pada sifon larutannya penuh kemudian jatuh ke labu alas bulat maka hal ini dinamakan 1 siklus.
5.Labu alas bulat : berfungsi sebagai wadah bagi
sampel dan pelarutnya
Ekstraksi minyak dengan cara pengempaan umunya dilakukan terhadap bahan
berupa biji, buah dan kulit buah. Adanya tekanan pengempaan memungkinkan
sel-sel yang mengandung minyak akan pecah dan minyak akan mengalir ke permukaan
bahan.
Cara Pengempaan ini dibagi menjadi 2, yaitu:
·Hydrolic pressing
Pada tipe ini minyak diperoleh dengan cara memberikan tekanan pada bahan
yang mengandung minyak yang dibungkus dengan kain. Kelemahan cara ini terbatas
hanya pada bahan yang minyaknya dapat diekstrak dengan tekanan rendah
·Expeller pressing
Alat pengempaan ini dilengkapi dengan porps berbentuk spiral yang
berputar secara kontinyu dalam wadah yang berbentuk silinder Kelebihan pressing
ini terletak pada kekontinuitas proses pengempaan dan tidak memerlukan kain
pengepresan.
Pengempaan minyak dari biji-bijian memerlukan
suhu dan tekanan yang sesuai untuk mendapatkan minyak berkualitas baik dan
rendemen yang tinggi. Suhu pengempaan minyak yang sesuai akan memberikan
kondisi yang optimal untuk pengempaan minyak, yaitu minyak atau lemak mencair,
emulsi protein dengan lemak pecah dan viskositas minyak berkurang. Hal ini
menyebabkan butiran minyak lebih mudah mengalir keluar pada waktu pengempaan
(Ketaren, 1986).
Suhu pemanasan yang terlalu tinggi
pada waktu pengepresan bahan dengan cara hidrolik atau pengempa berulir
menyebabkan sebagian minyak teroksidasi. Di samping itu, minyak yang terdapat dalam
suatu bahan dalam keadaan panas akan mengekstraksi zat warna yang terdapat
dalam bahan tersebut. Selain itu, pengempaan bahan yang mengandung minyak
dengan tekanan dan suhu yang lebih tinggi akan menghasilkan minyak dengan warna
yang lebih gelap.
Penggunaan tekanan sebaiknya dikombinasikan
dengan suhu pengempaan yang sesuai. Tekanan yang terlalu rendah akan menyebabkan
rendemen lemak yang dihasilkan sedikit karena dinding sel pada biji tidak pecah
secara sempurna. Pengempaan dengan tekanan yang terlalu tinggi akan
menghasilkan minyak dengan bilangan asam relatif semakin besar akibat proses
oksidasi minyak semakin besar Setyowati (1999), dan menyebabkan penurunan bilangan iod akibat
proses oksidasi pada ikatan rangkap asam lemak tidak jenuh sehingga proses
tersebut mengakibatkan ketidakjenuhan minyak berkurang (Swern, 1979).
Ekstraksi dengan
pengempaan (pressing ) dikenal dengan cara mekanis. Pengempaan prinsipnya
adalah pemberian tekanan pada sejumlah bahan tertentu yang sudah mengalami
perlakuan pendahuluan, sehingga komponen terdorong terpisah dan keluar dari
sistem campuran. Ekstraksi ini dipengaruhi oleh sifat mengalir atau fluiditas
bahan yang diproses, tekanan yang digunakan, dan waktu yang diberikan.
Menurut Suyitno (1989),
jumlah ekstrak yang diperoleh atau dihasilkan ekstraksi secara mekanis
dipengaruhi oleh :
1)Besar kecilnya hancuran bahan Bila ukuran
bahan semakin kecil, maka luas permukaan untuk setiap satuan berat adalah semakin besar sehingga cairan
yang diekstrak akan semakin banyak.
2)Besarnya tekanan yang diberikan Semakin besar
tekanan yang diberikan maka ekstrak yang dihasilkan semakin banyak. Akan tetapi
pemberian tekanan tersebut harus bertahap, sehingga tidak terjadi pengerasan di
permukaan ampas yang akan mengakibatkan cairan
terperangkap di dalamnya.
3)Waktu yang disediakan untuk tekanan maksimum
Selama pengempaan bahan diperlukan waktu yang cukup, terutama setelah mencapai
tekanan maksimum untuk memberi kesempatan terhadap cairan dari bagian dalam untuk keluar ke permukaan.
4)Kandungan cairan dari bahan yang akan
diekstrak .
Bahan yang memiliki kandungan cairan lebih banyak pada bahan, akan menghasilkan
ekstrak yang lebih banyak juga.
5)Cara pengempaan yang dilakukan
Setiap cara pengempaan memiliki syarat
tertentu yang harus dipenuhi oleh suatu bahan yang akan diambil ekstraknya.
Sebagai contoh untuk pengempaan dengan kempa hidraulik diperlukan syarat kadar
air bahan yang relatif tinggi. Ekstraksi dengan pengempaan, tekanan yang
diberikan selama pengempaan akan
mendorong cairan terpisah dan keluar dari sistem campuran padat-cair. Tekanan
yang diberikan terhadap campuran padat-cair akan menimbulkan beda tekanan
antara cairan dalam bahan dan campuran dalam suatu wadah dengan tekanan diluar
campuran atau diluar wadah. Beda tekanan akan mengakibatkan cairan terekstrak.
Jumlah ekstrak yang dihasilkan dengan ekstraksi menggunakan penekanan atau
pengempaan, dipengaruhi beberapa faktor antara lain besar kecilnya hancuran
bahan, waktu yang disediakan pada saat tekanan maksimum, besarnya tekanan yang
diberikan, kekentalan yang diekstrak, cara pengempaan yang dilakukan.
Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia
berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini
kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan.Zat yang memiliki titik
didih lebih rendah akan menguap lebih dulU Metode ini termasuk sebagai unit
operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada
teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik
didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton
Jenis
Ada beberapa jenis distilasi : yaitu distilasi sederhana, distilasi
fraksionasi, distilasi uap, dan distilasi vakum,Selain itu ada pula distilasi
ekstraktif dan distilasi azeotropic homogenous, distilasi dengan menggunakan
garam berion, distilasi pressure-swing, serta distilasi reaktif.
1)Distilasi Sederhana
Pada distilasi sederhana, dasar pemisahannya adalah perbedaan titik
didih yang jauh atau dengan salah satu komponen bersifat volatil. Jika campuran
dipanaskan maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih
dulu. Selain perbedaan titik didih, juga perbedaan kevolatilan, yaitu
kecenderungan sebuah substansi untuk menjadi gas. Distilasi ini dilakukan pada
tekanan atmosfer. Aplikasi distilasi sederhana digunakan untuk memisahkan
campuran air dan alkohol.
2)Distilasi Fraksionisasi
Fungsi distilasi fraksionasi adalah memisahkan komponen-komponen cair,
dua atau lebih, dari suatu larutan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Perbedaan
distilasi fraksionasi dan distilasi sederhana adalah adanya kolom fraksionasi,
Di kolom ini terjadi pemanasan secara bertahap dengan suhu yang berbeda-beda
pada setiap platnya. Pemanasan yang berbeda-beda ini bertujuan untuk pemurnian
distilat yang lebih dari plat-plat di bawahnya, Semakin ke atas, semakin tidak
volatil cairannya.
3)Distilasi Uap
Distilasi uap digunakan pada campuran senyawa-senyawa yang memiliki
titik didih mencapai 200 °C atau lebih. Distilasi uap dapat menguapkan
senyawa-senyawa ini dengan suhu mendekati 100 °C dalam tekanan atmosfer dengan
menggunakan uap atau air mendidih. Sifat yang fundamental dari distilasi uap
adalah dapat mendistilasi campuran senyawa di bawah titik didih dari
masing-masing senyawa campurannya. Selain itu distilasi uap dapat digunakan
untuk campuran yang tidak larut dalam air di semua temperatur, tapi dapat
didistilasi dengan air.Aplikasi dari distilasi uap adalah untuk mengekstrak
beberapa produk alam seperti minyak eucalyptus dari eucalyptus, minyak sitrus
dari lemon atau jeruk, dan untuk ekstraksi minyak parfum dari tumbuhan.Campuran
dipanaskan melalui uap air yang dialirkan ke dalam campuran dan mungkin
ditambah juga dengan pemanasan. Uap dari campuran akan naik ke atas menuju ke
kondensor dan akhirnya masuk ke labu distilat.
4)Distilasi Vakum
Distilasi vakum biasanya digunakan jika senyawa
yang ingin didistilasi tidak stabil, dengan pengertian dapat terdekomposisi
sebelum atau mendekati titik didihnya atau campuran yang memiliki titik didih
di atas 150 °C. Metode distilasi ini tidak dapat digunakan pada pelarut dengan
titik didih yang rendah jika kondensornya menggunakan air dingin, karena
komponen yang menguap tidak dapat dikondensasi oleh air. Untuk mengurangi
tekanan digunakan pompa vakum atau aspirator, Aspirator berfungsi sebagai
penurun tekanan pada sistem distilasi ini.
Cara
penyulingan
a) Penyulingan dengan air (direct distilation)
b)Penyulingan dengan air dan uap
(indirect distilation)
c)Penyulingan langsung dengan uap
(indirect distilation)
a)Penyulingan
dengan air
Cara yang tertua (Mesir dan India Kuno),sekarang masih
banyak dilakukan petani tradisional.
Prinsip kerja:
·ketel
penyulingan diisi air sampai vol hamper separuh, lalu dipanaskan Sebelum air
mendidih,
bahan baku dimasukkan dalam ketel.
·Bahan baku biasanya yg tidak rusak
oleh panas uap air misal bunga atau daun yg mudah bergerak dalam air.
b)Penyulingan
dengan air dan uap
oKualitas minyak yg dihasilkan
lebih baik.
oBanyak
dipakai oleh petani atsiri
Prinsip kerja:
·Ketel
diisi air sampai batas saringan/angsang.
·Bahan baku diletakkan di atas
angsang sehingga tidak kontak langsung dg air yg mendidih tetapi berhubungan dengan uap air.
·Air yg menguap akan membawa
partikel minyak atsiri dan dilairkan ke alat pemisah
c)Penyulingan
dengan uap
oPerlu
biaya besar karena setidaknya butuhdua
ketel. Umumnya dilakukan oleh perusahaan
oKualitas minyak yg dihasilkan
paling baik
Prinsip kerja:
·Ketel uap dan penyulingan
terpisah.
·Ketel uap yg berisi air dipanaskan
dan uapnya dilairkan ke ketel penyulingan yg berisi bahan baku
·Partikel minyak terbawa uap dan
dialirkan dalam pendingin kemudian dipisahkan
Kimia (dari bahasa Arab: كيمياء, transliterasi: kimiya = perubahan benda/zat atau bahasa Yunani: χημεία, transliterasi: khemeia) adalah ilmu yang mempelajari mengenai komposisi, struktur, dan sifat zat atau materi dari skala atom hingga molekul serta perubahan atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi yang ditemukan sehari-hari. Kimia juga mempelajari pemahaman sifat dan interaksi atom individu dengan tujuan untuk menerapkan pengetahuan tersebut pada tingkat makroskopik. Menurut kimia modern, sifat fisik materi umumnya ditentukan oleh struktur pada tingkat atom yang pada gilirannya ditentukan oleh gaya antaratom dan ikatan kimia. http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia
Banda Naira merupakan sebuah pulau yang mempunyai keindahan alam yang istimewa..
keindahan bawah laut yang terdapat di pulau ini benar-benar sangat indah ... bukan hanya itu saja di pulau ini juga merupakan pulau yang penting dalam sejarah .
pokoknya lo semua ngga akan nyesal deh...kalau liburan ke sini....